Mengenai Saya

Foto saya
pejajar Islam yang ingin mengembangkan dunia Islam dan mempersatukan islam

Kamis, 07 November 2013

Makalah Psikologi Perkembangan Anak.
Psikologi Perkembangan Dalam Perspektif Islam


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Kajian yang menggunakan objek manusia masih sangat menarik di dunia penelitian. Terdapat beberapa temuan baru dan perkembangan ilmu pengetahuan disana. Hal ini juga terjadi pada disiplin ilmu psikologi, yang notabennya merupakan ilmu yang mempelajarai tentang tingkah laku manusia secara khusus. Dalam salah satu cabang ilmu psikologi yaitu psikologi perkembangan yang mengkaji tentang perkembangna yang dialami oleh manusia dari pra lahir sampai kematian.
Dalam perkembangananya psikologi perkembangan tidak hanya dari persepektif  barat, namun skarang terdapat juga psikologi yang menggunakan perspektif keagamaan seperti perspektif islam. Namun hal ini masih menimbulkan suatu perbinjangan yang  panjang kerena dalam hakekatnya ilmu itu bersifat dinamus dan dapat diruntuhkan sedangkan agama itu bersifat dokmatis.
Dalam hal iuinkami tidak akan membahas tentang perbedaan ilmu dengan agama, namun penulis akan lebih mengkaji tentang psikologi dalam perspektif  islam, khususnya psikologi perkembangan. Karena itu penulis mengambil judul “Perkembangan Dalam Perspektif Islam”
B.     Rumusan masalah
1.      Bagaimana psikologi perkembangan dalam pandangan secara umum
2.      Bagaimana psikologi perkembangan dalam perspektif  islam?
3.      Bagaimana penerapan psikologi perkembangaan dalam pendidikan?
C.    Tujuan
Makalah ini bertujuan untuk menambah khasanah pengetahuan tentang psikologi perkembangan dalam perspektif islam.


BAB II
PEMBAHASAN

A.    Psikologi Perkembangan Dalam Perspektif Barat
Psikologi merupakan suatu ilmu yang mengkaji tentang prilaku manusia. Dalam selah satu cabangnya yatiu psikologi perkembangan, yang lebih spseifik membahas tentang perkembangan manusia dari prenatal sampai usia senja.
Para pakar perkembagnan secara terpisah membicarakan perkembangan terjadi pada berbagai ranah, atau dimensi, yaitu ranah perkembagan fisik, ranah perkembangan kognitif, dan ranah perkembangan psikososial. Walaupun sebenarnya semua ranah ini saling terkait satu dengan yang lain. Pertumbuhan tubuh, otak, kapasitas sensoris, ketrampilan motorik, dan kesehatan merupakan bagian dari perkembangan fisik. Sedangkan prubahan dan stabilitas dalam kemampuan mental, perhatian, ingatan, bahasa, pemikiran, logika, dan kreatifitas membentuk perkembangan kognitif. Pada perkembangan psikososial akan membentuk emosi, keperibadian dan hubungan social.[1]
Erikson membagi rentang kehidupan ke dalam delapan tahap dengan nama dan kelompok-kelompok dasar sebagi berikut:
1.      Masa bayi, tahap percaya lawan tidak percaya;
2.      Masa kanak-kanak, otonomi lawan rasa malu dan ragu-ragu;
3.      Usia pra-sekolah, tahap inisiatif lawan rasa bersalah;
4.      Usia sekolah, tahap industry lawan rasa bersalah;
5.      Masa remaja, tahap identitas lawan keraguan akan identias;
6.      Masa awal dewasa, tahap keakraban lawan perasaan terasing;
7.      Masa dewasa, tahap prosuktif lawan keadaan pasif;
8.      Masa tua, tahap integritas lawan putus asa.[2]
Namun di dalam sumber yang lain membagi rentang kehidupan menjadi delapan periode secara umum ditrima oleh masyarakat industri di Barat yaitu
1.      Periode pralahir
2.      Bayi dan batita (dari lahir hingga umur 3 tahun)
3.      Masa kanak-kanak awal (3 sampai 6 tahun)
4.      Masa kanak-kanak (6 sampai 11 tahun)
5.      Masa remaja (11 sanpai 20 tahun)
6.      Masa dewasa awal (20 samapi 40 tahun)
7.      Masa dewasa tengah (40 sampai 65 tahun)
8.      Masa dewasa akhir (65 tahun dan seterusnya)[3]
Dari berbagai teori tentang rentang kehidupan manusia yang telah dipaparkan diatas, terdapat satu benang merah dari pendapat tentang rentang kehidupan yaitu rentang kehidupan secara umum meliputi beberapa periode. Periode peralahir, bayi, anak-anak, remaja, dan dewasa. Dari rentang kehidupan ini dalam tiap-tiap periode kehidupan mempunyai tugas-tugas perkembangan tersendir yang berbeda dan beragam. Menurut Havighurst tugas perkembangan adalah tugas yang muncul pada saat atau sekitar suatu periode tertentu dari kehidupan individu, jika berhasil akan menimbulkan bahagia dan membawa kea rah keberhasilan dalam melaksanakan tugas-tugas berikutnya. Akan tetapi jika gagal, menimbulakan rasa tidak bahagia dan kesulitan dalam mengahadapi tugas-tugas yang lain.
B.     Perkembangan Dalam Persepktif Islam
Psikologi perkembangan dalam perspektif islam yaitu sebuah kajian tentang psikologi yang menggunakan sudut pandang agama islam sebagi acuannya. Dalam hal ini psikologi dalam perspektif islam dengan barat sangat bebeda, karena psiuklogi barat meruypakan suatu psikologi yang sekuler yaitu memisahkan ilmu psikologi dengna agama, sedangkan dalam prspektif islam, agama sangat penting digunakan untuk mengkaji ilmu psikologi itu sendiri.
Berbeda dengan sains modern pada umumnya yang memandang kehidupan manusia dimuli dengan terjadinya perubahan setelahpertemuan antara sel telur dan seperma, dalam ini islam memndang penciptaan manusia jauh sebelum hal tersebut, yaitu saat penciptaan ruh manusia si alam azali. Dalam persepektif islam tentang rentang kehidupan manusia tidak sebatas samap meninggalnya tetapi jauh sesudahnya yaitu alam akherat[4]. Dalam hal ini perspektif islam membagi rentang khidupan manusa menjaji beberapa fase yaitu:
1.      Kehidupan pra lahir
Yaitu periode perkembangan manusia sebelum masa pembuahan seperma dan ovum dan juga masa pembuahan seperma dan ovum. Tugas-tugas perkembangan periode sebelum masa pembuahan diperankan oleh orang tua anak:
a.       Mencari pasangan hidup yang baik.
b.      Segera menikah secara sah
c.       Membangun keluarga yang sakinah
d.      Selalu berdoa kepada Alloh SWT.
Dan pada periode pembuahan seperma dan ovum ada beberapa tahapan:[5]
a.       Fase nutfah (zigot) yang dimualai sejak masa pembuahan sampai empat puluh hari dalamkandungan
b.      Fase ‘alaqoh (embrio) selama 40 hari
c.       Fase mugbgbab (janin) selama 40 hari
d.      Fase peniupan ruh ke dalam janin setelah genap empat bulan
Dan tugas dari orang tua anak yaitu:
a.       Memelihara suasana psikologis yang damai dan tentram.
b.      Senantisasa meningkatkan ibadah dan meninggalkan maksiat, terutama bagi ibu
c.       Berdo’a kepada Alloh SWT. terutama sebelum 4 bulan dalam kandungan karena masa itu hokum-hukum perkembangan akan ditentukan.
2.      Fase bayi
Masa bayai yaitu terjadi pada usia 0-2 tahun. Pada masa ini indra yang menunjukan pertama-tama fungsinya adalah indra pendengaran.setelah itu fungsi indara pengelihatan, biasanya bayi akan dapat melihat pada usia kurang lebih 40 hari dari masa lahir ke bumi. Selanjutnya disusul indra-indra yng lain[6].
3.      Fase kanak-kanak (2-7 tahun)
Fase ini merupakan fase eksplor sejati. Di usia ini anak melakukan penjelajahan terhadap lingkungannya seluruh indranya dapat berfungsi dengan baik. Dibarengi dengan inisiatifnya yang tinggi indra anak dapat difungsikan secara optimal[7].
4.      Fase tamyiz (7-10 tahun)
Fase ini adalah fase peka dimana seorang siap (sipersiapkan atau mempersiapkan dirinya) melakukan peran sebagai hamba ALLoh[8]. Tugas hidup pada masa ini yaitu:
a.       Memiliki pengetahuan tentang bagaimana menjalin hubungan dengan Alloh;
b.      Memiliki kemampuan untuk melakukan ibadah mahdoh dan ghoeru mahdoh.
5.      Fase amrad (10-15 tahun)
Fase ini adalah fase persiapan bagi manusia untuk melakukan peranan sebagai khalifah di bumi. Sebagai wali Alloh manusia berkewajiban selalu menyebarkan kebaikan dan mengindarkan kemungkaran[9]. Tugas hidup pada masa ini yaitu :
a.       Memiliki kesadaran dan tanggung jawab, wawasan, keterampilan serta kemampuan untuk memaghami diri sendiri
b.      Memelihara dan mengembangkan kekuatan dan kesehatan fisik
c.       Memiliki kemampuan mengontrol, menjalin relasi dengan semua orang.
6.      Fase taklif (15-40 tahun)
Taklif atau dewasa adalah fase dimana seseorangn telah menjadi manusia dewasa. Sebagai manusia yang dewasa dia telah dikenai kewajiban sebagai ‘Abdulloah dan sebagai kholfah di muka bumi secara baik[10]. Tugas hidup pada fase ini sama dengan fase tamyiz dan amrad.
a.       Memiliki pengetahuan tentang bagaimana menjalin hubungan dengan Alloh;
b.      Memiliki kemampuan untuk melakukan ibadah mahdoh dan ghoeru mahdoh.
c.       Memiliki kesadaran dan tanggung jawab, wawasan, keterampilan serta kemampuan untuk memaghami diri sendiri
d.      Memelihara dan mengembangkan kekuatan dan kesehatan fisik
e.       Memiliki kemampuan mengontrol, menjalin relasi dengan semua orang.
7.      Fase futuh (lebih dari 40 tahun)
Pada fase ini seseorang mengalami ketercerahan batin sehingga ia memperoleh futuh (keterbukaan hal-hal yang sepiritual). Ia dapat memahami realitas alam semesta, dan akal pikirannya dapat memahami tealitas dengan cerdas dan bertindak secara tepat dan terukur[11].
8.      Kehidupan pasca kematian
Yaitu fase dimananyawa telah hilang dari jazad manusia. Hilangnya nyawa menunjukan pisahnya ruh dan jazad manusia yang merupakan akhir kehidupan di dunia dan awal dari alam akherat.[12]
C.    Implementasi Tahap Perkembangan Dalam Pendidikan
Tahap perkembangan yang terjadi pada manusia intinya ada kesamaan anatara perspektif barat dengan persepektif islam, namun ada juga perbedaannya. Tahapan perkembangan dangat relefan jika diakaitkan dengan pendidikan.
1.      Tahap pra-natal
Pendidikan pada tahap ini diantaranya dapat dilakukan dengan banyak membaca Al-Qur’an, berdo’a serta mengajak berinteraksi dengan anak yang masih dalam kandungan. Karena pada tahapan ini indra pendengaran sudah mulai berkembang, perkembangan ini dimulai pada minggu ke 8 dan selesai pembentukan pada minggu ke 24. Indera pendengaran ini juga dibantu oleh air ketuban yang merupakan penghantar suara yang baik. Oleh karena itu dalam agama islam saat ibu sedang mengandung dianjurkan untuk membaca Al-Qur’an dan melakukan hal-hal yang positif.
2.      Tahap bayi
Dalam tahap ini, indra pendenganran sudah menunjukann fungsinya sehingga pendidikan pertama yang diterapkan keanak adalah ketauhidan yaitu dengan mengumandangkan adzan di kedua teliunganya saat lahir. Hal ini bertujuan untuk menanamkan ketauhidan kepada diri anak.
3.      Tahap anak-anak
Pada tahapan ini anak sangat peka terhadap informasi yang diterimanya. Karena pada fase ini seluruh indranya berkembang dengan baik. Dalam hal ini pembelajaran yang bersifat aktif dan kongkrit serta bisa dirasakan oleh indra secara langsung merupakan pembelajaran yang tepat.
4.      Tahap Remaja
Pada tahapan ini anak lebih cenderung mengembangakn sosialnya dan sedang mencari jatidirinya, sehingga peranan orang tua dalam mengawasi konsumsi informasi sangatlah penting. Dan metode dalam pembelajaran yang digunakan yaitu dengan memadukan apliksi secara langsung.


[1] Dian E. Papalia, dkk, Hukum Development Psikologi Perkembangan, (Jakarta: prenaada media group, 2008), hlm.10.
[2] Elisabet B. Hurlock, Psikologi Perkembangan Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan Edisi Kelima, (Jakarta: Erlangga 1980), hlm. 13.
[3]Dian E. Papalia, dkk, Hukum Development Psikologi Perkembangan, (Jakarta: prenaada media group, 2008), hlm.12-13.
[4] H. Fuad Nasution, Potensi-potensi Manusia, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003), hlm. 129
[5] Abdul Mujib, Jusuf Mudzakir, Nuansa-nuansa Psikologi Islam, (Jakarta: Rajawali Pers, 2002), hlm.98-99
[6] H. Fuad Nasution, Potensi-potensi Manusia, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003), hlm. 135
[7] Ibid, hlm. 147
[8] Ibid,hlm. 150
[9] Ibid, hlm. 153
[10] Ibid, hlm. 156
[11] Ibid, hlm. 159
[12] Abdul Mujib, Jusuf Mudzakir, Nuansa-nuansa Psikologi Islam, (Jakarta: Rajawali Pers, 2002), hlm.109-110.