Psikologi Perkembangan Dalam Perspektif Islam
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Kajian yang menggunakan objek manusia masih sangat menarik di dunia
penelitian. Terdapat beberapa temuan baru dan perkembangan ilmu pengetahuan
disana. Hal ini juga terjadi pada disiplin ilmu psikologi, yang notabennya
merupakan ilmu yang mempelajarai tentang tingkah laku manusia secara khusus.
Dalam salah satu cabang ilmu psikologi yaitu psikologi perkembangan yang
mengkaji tentang perkembangna yang dialami oleh manusia dari pra lahir sampai
kematian.
Dalam perkembangananya psikologi perkembangan tidak hanya dari
persepektif barat, namun skarang
terdapat juga psikologi yang menggunakan perspektif keagamaan seperti
perspektif islam. Namun hal ini masih menimbulkan suatu perbinjangan yang panjang kerena dalam hakekatnya ilmu itu
bersifat dinamus dan dapat diruntuhkan sedangkan agama itu bersifat dokmatis.
Dalam hal iuinkami tidak akan membahas tentang perbedaan ilmu
dengan agama, namun penulis akan lebih mengkaji tentang psikologi dalam
perspektif islam, khususnya psikologi
perkembangan. Karena itu penulis mengambil judul “Perkembangan Dalam Perspektif
Islam”
B.
Rumusan masalah
1.
Bagaimana psikologi perkembangan dalam
pandangan secara umum
2.
Bagaimana psikologi perkembangan dalam
perspektif islam?
3.
Bagaimana penerapan psikologi perkembangaan
dalam pendidikan?
C.
Tujuan
Makalah ini
bertujuan untuk menambah khasanah pengetahuan tentang psikologi perkembangan
dalam perspektif islam.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Psikologi Perkembangan Dalam Perspektif Barat
Psikologi
merupakan suatu ilmu yang mengkaji tentang prilaku manusia. Dalam selah satu
cabangnya yatiu psikologi perkembangan, yang lebih spseifik membahas tentang
perkembangan manusia dari prenatal sampai usia senja.
Para pakar
perkembagnan secara terpisah membicarakan perkembangan terjadi pada berbagai
ranah, atau dimensi, yaitu ranah perkembagan fisik, ranah perkembangan
kognitif, dan ranah perkembangan psikososial. Walaupun sebenarnya semua ranah
ini saling terkait satu dengan yang lain. Pertumbuhan tubuh, otak, kapasitas
sensoris, ketrampilan motorik, dan kesehatan merupakan bagian dari perkembangan
fisik. Sedangkan prubahan dan stabilitas dalam kemampuan mental, perhatian,
ingatan, bahasa, pemikiran, logika, dan kreatifitas membentuk perkembangan
kognitif. Pada perkembangan psikososial akan membentuk emosi, keperibadian dan
hubungan social.[1]
Erikson
membagi rentang kehidupan ke dalam delapan tahap dengan nama dan
kelompok-kelompok dasar sebagi berikut:
1.
Masa bayi, tahap percaya lawan tidak percaya;
2.
Masa kanak-kanak, otonomi lawan rasa malu dan
ragu-ragu;
3.
Usia pra-sekolah, tahap inisiatif lawan rasa
bersalah;
4.
Usia sekolah, tahap industry lawan rasa
bersalah;
5.
Masa remaja, tahap identitas lawan keraguan
akan identias;
6.
Masa awal dewasa, tahap keakraban lawan perasaan
terasing;
7.
Masa dewasa, tahap prosuktif lawan keadaan
pasif;
8.
Masa tua, tahap integritas lawan putus asa.[2]
Namun di dalam
sumber yang lain membagi rentang kehidupan menjadi delapan periode secara umum
ditrima oleh masyarakat industri di Barat yaitu
1.
Periode pralahir
2.
Bayi dan batita (dari lahir hingga umur 3
tahun)
3.
Masa kanak-kanak awal (3 sampai 6 tahun)
4.
Masa kanak-kanak (6 sampai 11 tahun)
5.
Masa remaja (11 sanpai 20 tahun)
6.
Masa dewasa awal (20 samapi 40 tahun)
7.
Masa dewasa tengah (40 sampai 65 tahun)
8.
Masa dewasa akhir (65 tahun dan seterusnya)[3]
Dari berbagai teori tentang rentang kehidupan
manusia yang telah dipaparkan diatas, terdapat satu benang merah dari pendapat
tentang rentang kehidupan yaitu rentang kehidupan secara umum meliputi beberapa
periode. Periode peralahir, bayi, anak-anak, remaja, dan dewasa. Dari rentang
kehidupan ini dalam tiap-tiap periode kehidupan mempunyai tugas-tugas
perkembangan tersendir yang berbeda dan beragam. Menurut Havighurst tugas
perkembangan adalah tugas yang muncul pada saat atau sekitar suatu periode
tertentu dari kehidupan individu, jika berhasil akan menimbulkan bahagia dan
membawa kea rah keberhasilan dalam melaksanakan tugas-tugas berikutnya. Akan
tetapi jika gagal, menimbulakan rasa tidak bahagia dan kesulitan dalam
mengahadapi tugas-tugas yang lain.
B.
Perkembangan Dalam Persepktif Islam
Psikologi
perkembangan dalam perspektif islam yaitu sebuah kajian tentang psikologi yang
menggunakan sudut pandang agama islam sebagi acuannya. Dalam hal ini psikologi
dalam perspektif islam dengan barat sangat bebeda, karena psiuklogi barat
meruypakan suatu psikologi yang sekuler yaitu memisahkan ilmu psikologi dengna
agama, sedangkan dalam prspektif islam, agama sangat penting digunakan untuk mengkaji
ilmu psikologi itu sendiri.
Berbeda dengan
sains modern pada umumnya yang memandang kehidupan manusia dimuli dengan
terjadinya perubahan setelahpertemuan antara sel telur dan seperma, dalam ini
islam memndang penciptaan manusia jauh sebelum hal tersebut, yaitu saat
penciptaan ruh manusia si alam azali. Dalam persepektif islam tentang rentang
kehidupan manusia tidak sebatas samap meninggalnya tetapi jauh sesudahnya yaitu
alam akherat[4].
Dalam hal ini perspektif islam membagi rentang khidupan manusa menjaji beberapa
fase yaitu:
1.
Kehidupan pra lahir
Yaitu periode perkembangan manusia
sebelum masa pembuahan seperma dan ovum dan juga masa pembuahan seperma dan
ovum. Tugas-tugas perkembangan periode sebelum masa pembuahan diperankan oleh
orang tua anak:
a.
Mencari pasangan hidup yang baik.
b.
Segera menikah secara sah
c.
Membangun keluarga yang sakinah
d.
Selalu berdoa kepada Alloh SWT.
Dan pada
periode pembuahan seperma dan ovum ada beberapa tahapan:[5]
a.
Fase nutfah (zigot) yang dimualai sejak masa
pembuahan sampai empat puluh hari dalamkandungan
b.
Fase ‘alaqoh (embrio) selama 40 hari
c.
Fase mugbgbab (janin) selama 40 hari
d.
Fase peniupan ruh ke dalam janin setelah genap
empat bulan
Dan tugas dari orang tua anak
yaitu:
a.
Memelihara suasana psikologis yang damai dan
tentram.
b.
Senantisasa meningkatkan ibadah dan
meninggalkan maksiat, terutama bagi ibu
c.
Berdo’a kepada Alloh SWT. terutama sebelum 4
bulan dalam kandungan karena masa itu hokum-hukum perkembangan akan ditentukan.
2.
Fase bayi
Masa bayai yaitu terjadi pada usia
0-2 tahun. Pada masa ini indra yang menunjukan pertama-tama fungsinya adalah
indra pendengaran.setelah itu fungsi indara pengelihatan, biasanya bayi akan
dapat melihat pada usia kurang lebih 40 hari dari masa lahir ke bumi.
Selanjutnya disusul indra-indra yng lain[6].
3.
Fase kanak-kanak (2-7 tahun)
Fase ini merupakan fase eksplor
sejati. Di usia ini anak melakukan penjelajahan terhadap lingkungannya seluruh
indranya dapat berfungsi dengan baik. Dibarengi dengan inisiatifnya yang tinggi
indra anak dapat difungsikan secara optimal[7].
4.
Fase tamyiz (7-10 tahun)
Fase ini adalah fase peka dimana
seorang siap (sipersiapkan atau mempersiapkan dirinya) melakukan peran sebagai
hamba ALLoh[8].
Tugas hidup pada masa ini yaitu:
a.
Memiliki pengetahuan tentang bagaimana
menjalin hubungan dengan Alloh;
b.
Memiliki kemampuan untuk melakukan ibadah
mahdoh dan ghoeru mahdoh.
5.
Fase amrad (10-15 tahun)
Fase ini adalah fase persiapan bagi
manusia untuk melakukan peranan sebagai khalifah di bumi. Sebagai wali Alloh
manusia berkewajiban selalu menyebarkan kebaikan dan mengindarkan kemungkaran[9].
Tugas hidup pada masa ini yaitu :
a.
Memiliki kesadaran dan tanggung jawab,
wawasan, keterampilan serta kemampuan untuk memaghami diri sendiri
b.
Memelihara dan mengembangkan kekuatan dan
kesehatan fisik
c.
Memiliki kemampuan mengontrol, menjalin relasi
dengan semua orang.
6.
Fase taklif (15-40 tahun)
Taklif atau dewasa adalah fase
dimana seseorangn telah menjadi manusia dewasa. Sebagai manusia yang dewasa dia
telah dikenai kewajiban sebagai ‘Abdulloah dan sebagai kholfah di muka bumi
secara baik[10].
Tugas hidup pada fase ini sama dengan fase tamyiz dan amrad.
a.
Memiliki pengetahuan tentang bagaimana
menjalin hubungan dengan Alloh;
b.
Memiliki kemampuan untuk melakukan ibadah mahdoh
dan ghoeru mahdoh.
c.
Memiliki kesadaran dan tanggung jawab,
wawasan, keterampilan serta kemampuan untuk memaghami diri sendiri
d.
Memelihara dan mengembangkan kekuatan dan
kesehatan fisik
e.
Memiliki kemampuan mengontrol, menjalin relasi
dengan semua orang.
7.
Fase futuh (lebih dari 40 tahun)
Pada fase ini seseorang mengalami
ketercerahan batin sehingga ia memperoleh futuh (keterbukaan hal-hal yang
sepiritual). Ia dapat memahami realitas alam semesta, dan akal pikirannya dapat
memahami tealitas dengan cerdas dan bertindak secara tepat dan terukur[11].
8.
Kehidupan pasca kematian
Yaitu fase dimananyawa telah hilang
dari jazad manusia. Hilangnya nyawa menunjukan pisahnya ruh dan jazad manusia
yang merupakan akhir kehidupan di dunia dan awal dari alam akherat.[12]
C.
Implementasi Tahap Perkembangan Dalam Pendidikan
Tahap
perkembangan yang terjadi pada manusia intinya ada kesamaan anatara perspektif
barat dengan persepektif islam, namun ada juga perbedaannya. Tahapan
perkembangan dangat relefan jika diakaitkan dengan pendidikan.
1.
Tahap pra-natal
Pendidikan pada tahap ini
diantaranya dapat dilakukan dengan banyak membaca Al-Qur’an, berdo’a serta
mengajak berinteraksi dengan anak yang masih dalam kandungan. Karena pada
tahapan ini indra pendengaran sudah mulai
berkembang, perkembangan ini dimulai pada minggu ke 8 dan selesai pembentukan
pada minggu ke 24. Indera pendengaran ini juga dibantu oleh air ketuban yang
merupakan penghantar suara yang baik. Oleh karena itu dalam agama islam saat
ibu sedang mengandung dianjurkan untuk membaca Al-Qur’an dan melakukan hal-hal
yang positif.
2.
Tahap bayi
Dalam tahap ini, indra pendenganran
sudah menunjukann fungsinya sehingga pendidikan pertama yang diterapkan keanak
adalah ketauhidan yaitu dengan mengumandangkan adzan di kedua teliunganya saat
lahir. Hal ini bertujuan untuk menanamkan ketauhidan kepada diri anak.
3.
Tahap anak-anak
Pada tahapan ini anak sangat peka
terhadap informasi yang diterimanya. Karena pada fase ini seluruh indranya
berkembang dengan baik. Dalam hal ini pembelajaran yang bersifat aktif dan
kongkrit serta bisa dirasakan oleh indra secara langsung merupakan pembelajaran
yang tepat.
4.
Tahap Remaja
Pada tahapan ini anak lebih cenderung
mengembangakn sosialnya dan sedang mencari jatidirinya, sehingga peranan orang
tua dalam mengawasi konsumsi informasi sangatlah penting. Dan metode dalam
pembelajaran yang digunakan yaitu dengan memadukan apliksi secara langsung.
[1] Dian E. Papalia, dkk, Hukum Development
Psikologi Perkembangan, (Jakarta: prenaada media group, 2008), hlm.10.
[2] Elisabet B. Hurlock, Psikologi
Perkembangan Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan Edisi Kelima,
(Jakarta: Erlangga 1980), hlm. 13.
[3]Dian E. Papalia, dkk, Hukum Development
Psikologi Perkembangan, (Jakarta: prenaada media group, 2008), hlm.12-13.
[4] H. Fuad Nasution, Potensi-potensi Manusia,
(Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003), hlm. 129
[5]
Abdul Mujib, Jusuf Mudzakir, Nuansa-nuansa
Psikologi Islam, (Jakarta: Rajawali Pers, 2002), hlm.98-99
[6]
H. Fuad Nasution, Potensi-potensi Manusia,
(Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003), hlm. 135
[7] Ibid, hlm. 147
[8] Ibid,hlm. 150
[11] Ibid, hlm. 159
[12]
Abdul Mujib, Jusuf Mudzakir, Nuansa-nuansa
Psikologi Islam, (Jakarta: Rajawali Pers, 2002), hlm.109-110.
